3.28.2010

Kidung Anglana Sampaikan Kritik Sosial

Pementasan Sendratari Topeng Kolosal Reyog yang digelar Paguyuban Seni Reyog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anorogo tadi malam benar-benar mampu membius penonton yang berjubel di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).

Selain menampilkan visualisasi gerak tari yang bercerita, pementasan tersebut juga menyampaikan sebuah kritik sosial.

Berangkat dari sebuah cerita Panji yang berkembang populer di Indonesia, khususnya di Jawa, sendratari Kidung Anglana mulai dibuat. Meski begitu, menurut sang sutradara Wahyu Bayu Prasetyan, sendratari ini penggarapannya tidak menggarap cerita Panji secara keseluruhan, tetapi penekanannya lebih kepada hasil ekspresi atau interpretasi secara penokohan Klana dalam cerita tersebut.

Bayu menambahkan, aksen dramatik dalam pertunjukan menggunakan struktur adegan yang non linier dan abstrak serta tidak berusaha mengurutkan cerita yang ada. Dengan konsep macam itu, diyakini dimensi suasananya akan tercipta secara beragam dalam kepala penontonnya.

"Visualisasi gerak yang kami munculkan di panggung bukanlah penokohan secara saklek. Melainkan roh atau jiwa sosok Klana yang coba dimunculkan," ujar Bayu. Pementasan tersebut diawali dengan pemunculan sosok Klana dengan mengenakan topeng merah, yang diperankan Bayu. Kemudian, penari-penari yang berjumlah 16 orang mulai menari setelah sosok Klana meninggalkan tempat usai membuka topengnya.

Raja Klana Sewandana sendiri adalah tokoh dalam reyog. Pencitraan terhadap dirinya adalah sebagai seorang raja yang sedang jatuh cinta, namun tidak bisa menggapai cinta dari seorang perempuan yang ingin dijadikan pendamping. "Kami ingin menampilkan tarian yang menceritakan roh Klana di masing-masing penari. Jadi setiap penari dapat dikatakan sebagai lambang roh sosok Klana," tukasnya.

Pesan yang disampaikan dalam tari tersebut bersifat kritik sosial. Menurut Bayu, meski tarian tersebut baru sepertiga jadi, namun pesan yang disampaikan terangkum dalam ending cerita. "Dari dulu, sejak zaman Majapahit hingga saat ini, seorang raja pasti tak akan lepas dari sosok perempuan. Disebutkan di dalam cerita Panji, perempuan adalah sebagai konco wingking untuk seorang raja dalam berjalan. Dan keperkasaan seorang perempuan, kami tampilkan di bagian ending-nya," jelas laki-laki yang masih tercatat sebagai mahasiswa di ISI Surakarta ini.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, raja yang dimaksudkan dalam sendratari tersebut juga berarti raja dalam kelompok masyarakat, pemerintahan negara, dunia, dan juga dalam sebuah keluarga. "Seorang laki-laki akan menjadi pemimpin yang baik jika di belakangnya ada seorang perempuan yang menemaninya," paparnya.

Sementara itu, Ketua PSRM Sardulo Anorogo Fahmi Mubaroq Ali Akbar mengatakan, pementasan ini dibuat sebagai rangkaian diklat perekrutan anggota ukm Seni PSRM Sardulo Anorogo. "Kebetulan, saya berteman baik dengan Bayu. Jadi ini bukan kerja sama antar lembaga Unej dengan ISI. Namun lebih kepada hubungan pertemanan. Kami sepakat membuat sebuah karya. Dan jadilah sendratari ini dengan proses selama dua minggu," ujarnya.

Sedangkan menurut Suharto, dosen Sastra Unej sekaligus berperan sebagai direktur artistic pementasan tersebut, pementasan sendratari itu sebagai wujud untuk melestarikan budaya bangsa yang kini semakin menjadi anak tiri dalam sebuah wacana. "Membicarakan kebudayaan pada masa sekarang hampir dilakukan banyak orang, tapi soal ekspresi kesenian tidak banyak orang yang memahami kebudayaan," ujarnya.

Dikatakan, kesenian sebagai wujud kebudayaan acapkali mengerucut pada berapa harga lemari antik atau berapa wisatawan yang mengunjungi candi Borobudur dan berbagai hal yang berkaitan dengan materi.

"Budaya bangsa sudah menutup diri semakin jauh dari bentuk kesenian yang adi luhung dan menjadi cita-cita umat manusia yang beradab. Sisi spiritual itu telah menghilang dengan sendirinya. Karena itu, kami mencoba mendobrak hal itu dalam sebuah pementasan meski baru sepertiganya yang jadi," paparnya.

Menurut dia, bekerja sama dengan Bayu yang sudah memiliki banyak pengalaman di bidang seni kontemporer, adalah hal yang luar biasa. Apalagi, Bayu juga mempunyai link yang akan menggiring PSRM Sardulo Anorogo mengikuti festival Cak Durasim di Surabaya.

"Kami akan meneruskan proses kami agar menjadi utuh. Rencananya, kami juga akan mengirimkan karya kami, ke ANMARO, sebuah lembaga promosi kesenian ASIA yang berpusat di Amsterdam. Kebetulan Bayu mempunyai link di sana," pungkasnya.

Radar Jember, 16 Maret 2010

2.07.2010

Aksi Reog di Perumahan

RATUSAN warga di Perumahan Bumi Mangli Permai (BMP) Kaliwates, kemarin, mendapat hiburan segar. Di fasilitas umum (fasum) perumahan tersebut, Kesenian Reog Ponorogo dari Unej didapuk unjuk aksi di depan warga.
Reog tersebut ternyata didatangkan secara khusus oleh Paguyuban Keluarga Besar Ponorogo di Jember. Kebetulan, kali ini dipilih Perum BMP sebagai pusat atraksi. "Agenda seperti ini kami gelar dua bulan sekali. Selain menyambut Tahun Baru Muharam, juga sebagai ajang silaturahmi semua warga Ponorogo yang ada di Jember," kata H Syaichu Rozi, di sela-sela pertunjukan. (hdi)

Jawa Pos, Radar Jemberm 28 Des 2009

2.03.2010

Kesenian Reog Meriahkan JCC (Jember Carnaval City) 2008

Hajatan Pemerintah Daerah Kabupaten Jember, JCC (Jember Carnaval City) tahun 2008 dimeriahkan oleh kesenian Reog. Grup yang terlibat dalam acara tersebut berasal dari grup - grp reog yang berada di wilayah kabupaten Jember. Dengan menampilkan 10 dhadhak merak, acara JCC berlangsung sangat meriah. karnaval ini berangkat dari GOR Kaliwates dan berakhir di Alun - alun Jember, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 kilometer.


















Para penari jathil, warok dan dhadhak merak menari di depan panggung utama dan ditengah - tengah penonton


















Bupati Jember, MZA Jalal sedang dipanggul diatas Barongan (kepala harimau)


















kiprah penari jathil dalam JCC 2008


















semangat para penari warok, jathil dan Bujang Ganong menambah semaraknya JCC 2008

2.02.2010

Reog Universitas Jember dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Pekseminas) 1993

Sebagai bagian rentetan panjang sejarah berdirinya Paguyuban Seni Reog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anoraga Universitas Jember. Mungkin dapat di "katakan" bahwa adanya Reog di universitas Jember meruapakan "buah" dari Pekan Seni Mahasiswa nasional di Denpasar - Bali ini.

Dengan semangat yang luar biasa, Tim Reog Universitas Jember, berhasil membawa nama baik universitas sebagai wakil dari Badan Seni Mahasiswa Indonesia (BSMI) Jawa Timur sebagai Juara Umum devile. Pekseminas ini dilaksanakan pada bulan November 1993 di Denpasar, Bali.








Pelantikan Mahasiswa Baru Universitas Jember Tahun 2000

Sudah menjadi agenda tahunan di Universitas Jember, pada setiap pelantikan mahasiswa baru selalu menampilkan kegiatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), tak ketinggalan UKM Reog (PSRM Sardulo Anoraga).

Foto di bawah ini adalah dokumentasi pada saat upacara pelantikan mahasiswa baru tahun 2000. Pentas ini dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2000 di lapangan Universitas Jember (timur perpustakaan).